ADA yang terasa familier (dan menyenangkan) saat seorang Shah Rukh Khan ada di panggung Golden Globe. Kehadirannya bersama aktris Freida Pinto untuk mempresentasikan film underdog yang ternyata menjadi pilihan favorit asosiasi pers asing Hollywood, Slumdog Millionaire.

Pinto adalah pemeran Latika dalam film berlatar Mumbai yang disutradarai oleh Danny Boyle itu. Di atas panggung, Khan melontarkan komentar, “Aku bisa melakukan gerakan mendorong pinggulku di panggung ini, tapi mereka akan menyuruhku turun.”

Mungkin itu hanya sebuah lelucon, upaya dia mencairkan suasana. Dorongan pinggul atau pelvic thrust, istilah yang digunakan Khan, bagi penonton Asia adalah sesuatu yang ‘normal’. Malah sering kita abaikan kemunculannya dalam film-flm Bollywood. Tapi di Hollywood, ia jadi sesuatu yang terasa dan terdengar asing.

Setelah sosok Khan, salah satu ikon Bollywood itu muncul di pesta besar Golden Globe, baru terasa jelas bahwa selama ini ada elemen keasiaan yang jarang tampil pada industri film arus utama itu. Dorongan pinggul Khan adalah simbol yang tepat atas sebuah ‘dunia’ atau hegemoni yang hampir tak pernah terwakili dalam kompetisi film seperti Golden Globe, bahkan malah di Academy Awards.

Slumdog sering disebut-sebut dalam berbagai peliputan media Amerika sebagai sebuah film dengan deretan pemain yang tidak dikenal (cast of virtual unknowns). Padahal, di situ ada aktor Bollywood Anil Kapoor yang berperan sebagai pembawa acara kuis Who Wants to be a Millionaire yang diikuti karakter Jamal di film. Anil sudah membintangi 105 film dan bukanlah seorang unknown buat penonton film-film India.

Maka, kemunculan serta kejayaan Slumdog Millionaire di Golden Globe 2009 dengan 4 Golden Globe adalah sebuah representasi akan hegemoni budaya yang dianggap asing itu.

Memang, Danny Boyle, 52, adalah sutradara Inggris. Sebelum pembuatan Slumdog, ia bahkan tak pernah menginjakkan kaki di India. Ia ketakutan saat harus membuat Slumdog di negara yang asing baginya.

Melawan takut
Tapi ketika Boyle sudah berada India, ia jatuh cinta. Setelah mengatasi rasa takut dan panik berada di luar rutinitas dan lingkungan yang normal baginya, Boyle melihat Slumdog sebagai kesempatan untuk memulai lagi karier dari awal. Karya Boyle lain yang terkenal adalah Trainspotting dan 28 Days Later.

“Saya punya teori ini: film pertamamu adalah film terbaik yang akan kamu buat karena kamu tidak benar-benar tahu apa yang sedang kamu lakukan. Sebuah kesempatan bagus untuk bekerja dengan (India) karena ini baru,” kata Boyle.

Padahal, saingan Slumdog Millionaire dalam kategori film drama terbaik adalah Revolutionary Road dari sutradara pemenang Oscar Sam Mendes, Frost/Nixon dari sutradara pemenang Oscar juga, Ron Howard, The Curious Case of Benjamin Button dari David Fincher (Fight Club), serta The Reader dari sutradara nominator Oscar Stephen Daldry (The Hours).

Kemenangan Slumdog juga diramalkan akan membawa pengaruh positif bagi industri perfilman India. Setidaknya dari segi eksplorasi tema.

Bollywood menjadi identik dengan film-film penuh lagu dan tarian berbahasa Hindi. Baru dalam beberapa tahun terakhir, industri ini melebarkan tema ke isu-isu kontemporer seperti ekstremisme keagamaan dan cara hidup para pekerja di sektor call centre yang merebak di India.

Slumdog menampilkan gambaran realitas hidup di permukiman kumuh Dharavi, Mumbai. Kesuksesan film ini, baik secara kritikal maupun komersial, diyakini redaktur budaya Mumbai Mirror Indu Mirani dan analis industri Taran Adarsh akan memengaruhi lebih banyak sutradara untuk menggarap tema-tema sehari-hari. Para sutradara ini akan melihat bahwa ada pasar buat film-film yang tidak hanya bersifat eskapis dan berakhir bahagia.

“Pada 2008, kami punya banyak film dengan tema berbeda yang digarap. Hasilnya juga lumayan di box office dan ini menunjukkan orang-orang menginginkan hiburan alternatif. Ada penonton untuk film-film tipe ini,” kata Adarsh.

Kemenangan Slumdog juga membuat masyarakat India euforik. “Yang membuatnya memang bukan orang India, tapi film ini membuat India muncul di peta dunia,” kata dia lagi.

Mirani menambahkan bahwa Slumdog, walaupun dibuat seorang Inggris, adalah film yang benar-benar India. “Senang rasanya ketika sebuah film yang benar-benar India bisa punya daya tarik buat orang-orang di dunia internasional.”

Unsur ‘asing’ di Slumdog, selain Boyle, adalah penulis naskah film Simon Beaufoy. Tapi, para pemain, asisten sutradara Loveleen Tandan, penata musik AR Rahman, dan penulis novel Q and A yang jadi dasar film ini, Vikas Swarup, adalah orang India. Cukup alasan buat India untuk ikut berbahagia.

Produser dan sutradara veteran Mahesh Bhatt masih percaya bahwa penonton India tidak cukup kuat menonton kenyataan. Bintang film besar juga ragu membuat penonton kelas menengah ke atas di India jadi tidak nyaman dengan kenyataan (baca: kemiskinan).

“India hidup di Dharavi. Gaya film kami memang Disneyland. Semuanya tentang fantasi. Kalau saya membuat film seperti Slumdog Millionaire, tidak ada distributor yang mau menyentuhnya. Konsumen India tidak butuh cerita seperti ini dan mereka tidak akan tergerak,” kata Bhatt.

Siapa yang salah atau benar bisa diketahui pada 23 Januari nanti, saat Slumdog diputar perdana di hadapan para penonton India.

( pertama diterbitkan di Media Indonesia, 15 Januari 2009 )