PENULIS Susanna Kaysen dalam memoarnya Girl, Interrupted (yang versi filmnya dibintangi Angelina Jolie) mengibaratkan masa-masa yang ia habiskan di rumah sakit jiwa sebagai sebuah interupsi dalam proses tumbuh kembangnya sebagai manusia.
Britney Spears, si putri mahkota pop itu, sepanjang 2008 menjalani dua kali perawatan (paksa) di rumah sakit jiwa. Hidupnya sempat terinterupsi dua kali. Dengan album Circus yang diluncurkan Selasa (2/12), Spears menyatakan tak ada lagi interupsi.
Tubuh menggeliat di ruang sauna menunjukkan ukuran menyusut. Abdomen terpahat yang dulu sering ia pamerkan sekarang sepertinya sudah kembali. Pun rambut pirang lembut dengan gelombang yang jadi ciri khas ‘kesehatannya’. Walaupun sepertinya itu masih rambut sambung akibat sisa satu malam gila mencukur habis rambut di kepalanya.
Kondisi tubuh yang dipamerkan Britney Spears dalam videoklip Womanizer itu menunjukkan keprimaan fisik yang jauh dari penampilan katastrofik di MTV Video Music Award 2007 silam.
Tak peduli apakah ia dalam momen tergelap atau paling bersinar, Spears adalah ‘produk’ paling dicari lewat mesin pencari Yahoo, selama tujuh dari delapan tahun terakhir. Dan Circus akan membantunya tetap berada di urutan teratas pencarian.
Britney Spears, dengan implikasi makna positif dan negatif, adalah sebuah atraksi. Pemberitaan media yang mengelilinginya adalah sirkus. Dan kita sebagai penonton sepertinya tidak, atau belum, bisa mengalihkan pandangan.
Harapkan semua ironi atau refleksi itu terungkap di Circus. Lewat Kill the Lights, ia menyindir para fotografer yang tak henti menguntitnya. Kekesalannya ia tumpahkan dengan, ‘Is that money in your pocket//Or are you just happy to see me‘. Anehnya, Britney, seperti kita tahu, tak berhenti memberikan alasan untuk terus dikuntit.
Dalam lagu Circus pun ia mengakuinya. Katanya, ‘There’s only two types of people in the world//The ones that entertain, and the ones that observe//Well baby I’m a put-on-a-show kinda girl’.
Jadi, apa yang bisa diharapkan ketika ia juga membanggakan prosedur penciptaan sebuah pertunjukan?
Di My Baby, ia menyanyikan semacam ninabobo untuk anak-anaknya. Balada yang bisa dengan mudah dilupakan. Pada buku antologi Da Capo Best Music Writing 2000, kolumnis musik dari St Paul Pioneer Press Jim Walsh menulis tentang Bruce Springsteen. Katanya, “Saat sebagian besar musik para bintang rock membuat Anda memikirkan hidup mereka, musik Springsteen menuntut Anda berpikir tentang hidup Anda sendiri.”
Fase kehidupan
Britney adalah contoh tepat golongan pertama yang disebut Walsh. Circus sebagai sebuah album tak berhenti membuat kita berpikir tentang berbagai fase kehidupan Spears. Yang sebenarnya sudah menjadi sebuah konsumsi publik juga.
Tapi sudahlah, memang itu yang dilakukan seorang bintang jika dibandingkan dengan musisi. Walaupun begitu, Spears bisa menyontek beberapa trik soal politik dan diplomasi penciptaan kemasan yang lebih variatif daripada sekarang dari Madonna.
Saat diwawancarai kritikus dari Rolling Stone dan Village Voice, Vince Aletti, terungkap bahwa Madonna membentuk pencitraan dalam berbagai videoklipnya dengan mencontoh objek-objek foto dalam karya berbagai fotografer terkemuka, seperti Lewis Hine dan Horst. Adapun videoklip Bedtime Story-nya adalah penghormatan pada berbagai karya pelukis perempuan surealis, seperti Leonora Carrington, Remedios Varo, dan Frida Kahlo.
(Hampir) semua hasil karya para visioner yang sudah muncul sebelumnya digunakan Madonna untuk menjustifikasi eksistensinya untuk mendominasi dunia pop. Jika Spears menginginkan tingkat dominasi yang sama, ia sebaiknya segera memulai proses penyontekan itu.
Patut disayangkan bahwa Circus, pada akhirnya, bukanlah produk yang superior. Bahkan dengan standar album seorang bintang pop sekalipun.
Beberapa lagu hit terakhir Britney punya kualitas yang lumayan eksplosif ketika diputar keras-keras di kelab malam. I’m a Slave for You punya dentuman bas yang berbahaya akibat campur tangan duo produser The Neptunes.
Sebaliknya, Womanizer di album Circus, yang diharap punya peran sama, hanya beramunisi bunyi synthesizer yang kaya. Tidak terdengar seperti hasil produksi 2008 dengan semua kemajuan teknologi musik yang bisa digunakan. Bahkan Gimme More, lagu hit di album Blackout yang dibuat saat Spears masih kacau, punya hook lebih berkesan.
Kualitas beat di Unusual You mencukupi untuk scene kelab malam khas Eropa. Tapi lagu ini agak mengingatkan dengan Missing-nya Everything but the Girl. Ada dentingan kibor khas 1980-an di Mmm Papi. Dan Lace and Leather benar-benar sebuah lagu pop penyanyi cewek remaja 1980-an.
Pada akhirnya Circus menjadi sebuah album yang sekadar aman menuruti semua formula pop. Hanya cukup untuk menunjukkan bahwa mesin produksi Britney Spears sudah berjalan seperti biasa. Tak lagi terinterupsi.
( pertama diterbitkan di Media Indonesia, 4 Desember 2008 )