PADA usia 90, JD Salinger semakin menjadi hantu ketimbang orang nyata. Mirip dengan karakter Seymour Glass yang ia tulis.

“I want to talk to Seymour.”

Franny, atau Francess, Glasslah yang menyampaikan permintaan itu kepada kakaknya, Zooey, di novel Franny and Zooey. Novel itu adalah karya penulis JD Salinger yang berulang tahun ke-90 pada 1 Desember lalu.

Salinger masih hidup dan ada bukti-bukti yang meyakinkan penggemarnya bahwa ia masih menulis. Hanya saja belum tahu kapan buku-buku itu bisa sampai di tangan penerbit, apalagi pembaca.

Selama hampir 50 tahun terakhir, Salinger menyembunyikan dirinya di sebuah rumah di Cornish, New Hampshire. Karya terakhir yang ia terbitkan adalah cerita pendek Hapworth 16, 1924, yang terbit di majalah New Yorker edisi 19 Juni 1965. Isinya tentang surat yang dikirimkan Seymour Glass saat ia menghabiskan liburan musim panas di sebuah perkemahan.

Salinger memberikan wawancara terakhirnya dengan Boston Sunday Globe pada 1980. Setelah itu, yang ada hanya kesunyian. Walaupun ada narasi dari memoar anak perempuannya dan mantan kekasihnya, selebihnya Salinger bungkam.

Ia punya banyak pengacara untuk meyakinkan orang lain untuk tidak berbicara sepatah pun soal dia. Caranya, dari menutup situs yang mengutip karya-karyanya sampai membawa ke pengadilan seorang biografer yang ingin menggunakan surat-surat pribadinya sebagai bahan tulisan.

Ajaran Seymour
Franny and Zooey terbagi dalam dua bab utama. Franny, bagian pertama, adalah sebuah cerita pendek tentang Franny yang menghabiskan akhir pekan pada pertandingan tim sepak bola Yale bersama pacarnya, Lane. Pada bab itulah cerita tentang masalah spiritual Franny berawal.

Selanjutnya di Zooey, Franny sudah berada di ruang keluarga rumah keluarga Glass. Dari cara Salinger menggambarkan kondisi Franny yang tergeletak di sofa ruang keluarga Glass itu, depresi spiritual jadi terlihat seperti konsep yang atraktif. Dari sofa itulah, Franny menyampaikan keinginannya untuk berbicara dengan Seymour. Keinginan itu sulit terwujud karena Seymour beberapa belas tahun sebelumnya menempelkan sepucuk pistol otomatis Ortgies kaliber 7.65 di pelipis kanan kepalanya.

Saat itu, ia sedang berbulan madu di Florida, dan istrinya tengah tertidur di ranjang twin di sebelah kursi yang ia duduki. Adegan itu terekam dalam cerita pendek A Perfect Day for Bananafish.

Sejak itu, Seymour, yang paling jenius di antara anak-anak ajaib keluarga Glass lainnya, menjadi hantu dalam kehidupan keluarganya. Mereka hidup dan bernapas dalam bayang-bayang Seymour.

Mereka tidak bisa melepaskan diri darinya. Tapi sayang, Seymour tidak lagi ada untuk berbagai jenis pertanyaan yang mereka miliki soal seberapa aplikatifnya spiritualitas yang ia perkenalkan. Keputusasaan itu tampak jelas di Franny and Zooey.

Padahal, ajaran yang disampaikan Seymour (dan Buddy, anak kedua keluarga Glass, juga Salinger sebagai penulis) berfokus pada kejujuran, ketulusan, kemurnian, dan kesederhanaan. Ego, dalam arti terkotornya, tidak mendapat ruang. Yang ada adalah bekerja sebaik-baiknya dalam upaya mencapai pengetahuan yang ‘murni’. Ajaran yang sulit diterapkan saat mereka berhadapan dengan dunia yang semakin praktis dan material.

Seymour dan Buddy adalah yang paling berperan dalam membuat keduanya menjadi, meminjam istilah Zooey, circus freak. Berada pada standar nilai yang tidak ‘manusia’ jika dibandingkan dengan kebanyakan orang.

Pada adegan pertama novel Raise High the Roof Beam, Carpenters, Franny yang masih berusia 10 bulan terpaksa dititipkan di kamar Seymour dan Buddy saat gondok menyerang rumah keluarga Glass. Bayi Franny menangis di tengah malam, tetapi bukan karena lapar.

Seymour pun mengambil sebuah buku kumpulan kisah Taois yang langsung diprotes Buddy. “Demi Tuhan, dia baru 10 bulan,” ujarnya. “Aku tahu,” balas Seymour. “Bayi punya telinga. Mereka bisa mendengar,” ia beralasan.

Dan Salingerlah yang menjalankan peran Seymour dan Buddy itu buat pembaca awam. Walaupun sebagai narator pada bagian awal Zooey, ia mengingatkan bahwa cerita itu bukan sebuah cerita mistis atau cerita yang memistiskan secara agamis. “Aku bilang ini sebuah tumpukan cerita cinta, murni, dan tidak rumit,” tulis Salinger.

Perbedaan
Yang membedakan Salinger dan Seymour adalah Salinger, lewat karakter Zooey, ada sampai akhir cerita untuk memberi ’solusi’ kepada pembaca. Bahwa kesempurnaan atau sifat-sifat ‘ketuhanan’ (divine) yang dicari-cari Franny sampai membuat ia nyaris putus asa bisa ditemukan di keseharian manusia. Melalui hal-hal yang sebenarnya juga sederhana dan dalam kuasa kita.

Salinger, lewat Zooey, jadi membumikan ajaran-ajaran ‘tidak mungkin’ Seymour dan Buddy itu. Namun, jika Salinger lewat Zooey bisa ‘memaafkan’ dunia yang semakin berbeda dari gambaran idealnya, kenapa ia malah semakin menarik diri?

Seymour, Buddy, bahkan Holden Caulfield, karakter-karakter Salinger yang sudah berada di status ‘mistis’, semuanya terpaku pada ide kemurnian. Phoniness, atau kepalsuan, kata yang sering diulang Holden di The Catcher in the Rye adalah esensi musuh bersama kuartet suci itu.

Charles McGrath di New York Times menulis bahwa ide kemurnian Salinger itu tidak lagi, bahkan mungkin memang tidak pernah, relevan. Dari situ, bisa ditarik alasan penarikan diri Salinger dari dunia ‘kita’ adalah ia sedang menciptakan dunia ideal di rumahnya, di Cornish. Dan, ia ingin dibiarkan menjadi lelaki tua biasa yang ide-idenya mulai obsolet. Jadi tidak perlu berbicara dengan Salinger.

( pertama diterbitkan di Media Indonesia, 8 Januari 2009 )