Daftar nominasi penghargaan Golden Globe 2009 sudah keluar. Hanya satu nominasi yang diperoleh Milk.

MUNGKIN asosiasi pers asing di Hollywood enggan terjebak dalam debat di California soal Proposition 8 dengan hanya memberi Milk satu nominasi untuk aktor terbaik.

Proposition 8 atau Prop 8 adalah usulan untuk membatasi definisi pernikahan pada seorang pria dan wanita saja sehingga pasangan sesama jenis tak punya hak menikah. Pada 6 November lalu, pemilih Negara Bagian California memutuskan mendukung Prop 8.

Atau, minimnya nominasi untuk Milk sekadar menganggap film ini tak lebih dari media pamer ego Sean Penn. Padahal dalam nominasi penghargaan versi Critics Choice, Milk, film karya Gus Van Sant dan The Curious Case of Benjamin Button karya David Fincher, memimpin di delapan kategori.

Milk adalah biopik yang menggabungkan unsur dokumenter dan film untuk membangun cerita seorang Harvey Milk. Milk yang asli adalah pejabat gay pertama di Amerika Serikat pilihan publik. Ia bertugas sebagai pengawas pembangunan (city supervisor) di San Francisco di era 1970-an.

Dalam kariernya, Gus Van Sant seperti sutradara berkepribadian ganda. Di satu sisi, ia membuat drama yang aksesibel, seperti Good Will Hunting dan Finding Forrester, tetapi ia juga membuat karya visioner, seperti Elephant (penggambaran satu hari di sebuah sekolah sebelum terjadi penembakan massal), Last Days (hari-hari terakhir hidup seorang musisi yang mirip Kurt Cobain), dan Gerry (tentang dua pria bernama Gerry yang tersesat di gurun pasir).

Di Milk, Van Sant menggabungkan dua kepribadian tersebut untuk menggambarkan bagaimana seorang Harvey Milk, yang datang dari kelompok terpinggir, bisa masuk ke kantor pemerintahan yang publik dan sangat heteroseksual.

Mengimbangi Sean Penn sebagai Harvey Milk, Van Sant mengumpulkan beragam aktor muda dengan kemampuan impresif. Ada Emile Hirsch (Into the Wild), Diego Luna (Y Tu Mama Tambien), dan James Franco (Spiderman dan sekuel-sekuelnya). Lalu sebagai antagonis politik Milk, Dan White ada Josh Brolin.

Yang membuat kisah Milk menjadi layak dikenang selain bahwa ia mampu menyisihkan keraguan dan prasangka orang banyak atas orientasi seksualnya, adalah hidupnya yang berakhir tragis. Milk, sebagai pengawas pembangunan Kota San Francisco, dan Wali Kota George Moscone tewas dibunuh oleh Dan White.

Intensitas emosi
Van Sant mengawali ceritanya dengan rekaman dokumentasi hitam putih dan kliping koran penggerebekan sejumlah bar gay di Miami, Los Angeles, dan New York pada akhir 1960-an untuk menaruh kita pada perspektif masa.

Lalu cerita beralih ke dapur seorang Harvey Milk pada 1978 yang sedang merekam wasiat cerita hidupnya. Dari situ cerita mundur lagi ke 1970. Harvey yang 40 tahun bertemu pemuda ganteng di stasiun metro bawah tanah, Scott Smith (James Franco).

Hubungan Scott dan Harveylah yang akan menyumbang banyak adegan dalam film. Walaupun nantinya Harvey juga akan bersama dengan Jack Lira (Diego Luna) yang ratu drama, interaksi dia dengan Scott tetap menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya.

Bahkan hubungan Harvey dengan Scottlah yang membuat mereka menetap di kawasan Castro, San Francisco. Castro awalnya hanya kawasan bagi pengusaha kecil. Kemudian daerah ini berubah menjadi tempat ‘perlindungan’ bagi kelompok gay dari berbagai daerah di Amerika Serikat, atau malah dunia.

Dan Harvey Milk dengan toko kameranya ada tepat di tengah pusaran aktivitas itu sampai-sampai dijuluki the Mayor of Castro Street (Wali Kota Jalan Castro).

Tapi kekerasan dan pembunuhan berlatar bigotri terus terjadi di Castro. Sedangkan polisi memilih menutup mata. Inilah yang membuat Harvey Milk memutuskan untuk ikut pemilihan jadi pengawas kota.

Menyenangkan melihat Penn bermain di sini. Di Mystic River ia menjadi ayah yang marah pada sebagian besar film, lalu ia jadi politikus yang marah di All the King’s Men.

Semuanya adalah intensitas emosi yang butuh kelaparan tertentu sebagai penonton untuk bisa mencernanya.

Di Milk, karakter Penn tetap orang yang marah, tapi itu tak menghentikan dia memiliki hidup lain di luar kemarahan tersebut. Ada keringanan, kendali, dan keceriaan dalam penampilan Penn di sini.

Tapi yang paling sering memberi alasan untuk kita tertawa adalah Emile Hirsch sebagai Cleve Jones. Dia sok tahu, tengil, genit, suka berkomentar pedas, berapi-api, dan seperti kata Harvey Milk di film, menggemaskan.

Yang juga menarik adalah cara kamera Van Sant bercerita. Pada awal film, saat kehidupan Harvey dan Scott masih sangat pribadi sebagai pasangan, sosok mereka direkam lewat gambar-gambar fokus khas cara pandang seorang kekasih. Jari-jemari dan kelopak mata disorot bergantian dari kabur ke tajam sambil diberi narasi.

Saat mereka bertengkar pertama kali di layar, kita sebagai penonton diberi jarak. Seolah kita hanya boleh mengintip pertengkaran mereka dari lubang kunci ruang sebelah.

Tapi saat Harvey sudah mulai berkampanye untuk kesekian kali sebagai pengawas kota, dan Scott tidak setuju, kini kita berada di ruangan yang sama dengan mereka. Kita jadi bagian pertengkaran mereka, seiring hidup Harvey yang semakin publik.

Lalu ada beberapa kali Van Sant ‘memisahkan layar’ dengan cara menyorot objek pemantul di sebuah set untuk menggambarkan dua fokus berbeda.

Saat jenazah seorang lelaki gay yang terbunuh akan dipindah dari trotoar, Van Sant memasukkan adegan Harvey yang protes pada polisi lewat pecahan kaca di jalan.

Lalu saat Harvey sedang diwawancara di siaran televisi, Van Sant menggambarkan reaksi wajah Dan White lewat bayangan gelap di kaca televisi. Tidak bergantian, tapi bersamaan. Seolah ingin menjadikan keduanya subjek utama dalam satu bingkai.

Mungkin karena ini sebuah biopik yang berdasar atas kisah nyata. Ada banyak interpretasi dan sudut pandang yang harus masuk dalam bingkai agar cerita jadi utuh.

Pada adegan penembakan Moscone, trik ini dilakukan lagi walaupun motivasinya berbeda, menjadikannya tak terlalu frontal. Lalu gaya itu dikontraskan dengan adegan saat Harvey ditembak.

Inilah yang mengingatkan kita pada Gus Van Sant di Elephant. Atau karena fokus ceritanya adalah Harvey, sehingga akhir hidupnya patut jadi subjek utama.

Yang mengesankan, walaupun hidup Harvey Milk berakhir tragis, Milk adalah kisah utuh tentang sebuah pencapaian dalam hidup seorang pria.

( pertama diterbitkan di Media Indonesia, 18 Desember 2008 )