SEBAGAI novelis grafis, sumber terbesar materi Marjane Satrapi adalah dia sendiri dan keluarganya. Persepolis yang melambungkan namanya adalah sebuah autobiografi masa kecil dan masa mudanya di Iran pasca-Revolusi 1979 dan di Austria.
Lalu Embroideries, yang diterbitkan di Indonesia oleh Gramedia Pustaka Utama sebagai Bordir adalah cerita tentang perempuan-perempuan di keluarganya yang ketika berkumpul menggosipkan tentang lelaki-lelaki dalam hidup mereka.
Baru-baru ini Gramedia menerbitkan satu lagi novel grafis Marjane Satrapi setelah Embroideries. Judulnya Chicken with Plums (Ayam dengan Plum). Fokus ceritanya adalah seorang musisi tar (alat musik Iran, yang berdasarkan gambaran Satrapi, bentuknya seperti biola dengan tangkai panjang) yang juga ayah salah satu bibi Satrapi.
Nama si musisi adalah Nasser Ali Khan. Dia bukan sekadar musisi. Sebagai pemain tar, Nasser Ali adalah yang terbaik di Iran. Namun, suatu hari ia memutuskan bergelung di tempat tidur sembari menunggu maut menjemputnya.
Pertanyaan besar yang coba dibangun buku ini adalah ‘kenapa’. Kenapa Nasser Ali tiba-tiba memutuskan untuk mati saja?
Lalu Satrapi membawa pembacanya berselang-seling ke masa lalu dan kini. Dari soal kegagalan cinta di masa lalu, pertengkaran Nasser Ali dengan istrinya, rivalitas dengan adiknya, sampai perasaan pada anak-anaknya, dan apa yang terjadi pada anak-anak Nasser Ali di masa depan.
Mungkin tidak penting untuk mempertanyakan apa motivasi Satrapi untuk memilih Nasser Ali sebagai subjek, tetapi si subjek yang diceritakan bukan orang yang mudah mendapat empati dari pembaca. Ayah yang terlalu sibuk dengan dirinya sendiri, pemurung, melankolis, dan menuntut perhatian terus-menerus dari lingkungan keluarganya.
Di sekeliling Nasser Ali, ada ibu yang lebih sayang pada adiknya. Ada kisah cinta masa lalu yang tidak kesampaian. Dia terjebak dalam pernikahan dengan orang yang tidak ia cintai.
Namun, bukankah semua orang punya tumpukan masalahnya sendiri-sendiri? Voltaire lewat Candide memberikan penyimpulan yang lebih manis daripada sekadar bergelung dan mati ala Nasser Ali.
Satrapi sebagai pencerita juga membuat penghakiman yang akut. Terhadap salah satu anak Nasser Ali, Mozaffar, terutama. Mozaffar diceritakan tidak punya kemiripan sama sekali dengan ayahnya. Tak pernah murung, tak mengerti seni, tidak kurus.
Mozaffar menikah dengan teman kuliahnya dan bermigrasi ke Amerika Serikat. Mereka mewujudkan hidup ala The American Dream dan punya anak-anak yang bermasalah serius dengan berat badan. Lalu Satrapi berkata, “Nasser Ali Khan tidak tahu betapa beruntungnya dia meninggal empat hari kemudian. Andai dia tahu kisah tentang Mozaffar dan putrinya, bisa-bisa dia langsung kena kanker….”
Mungkin, bagi Satrapi, ia hanya mencoba mengidentifikasi reaksi Nasser Ali. Yang terjadi adalah kesan bahwa keluarga Mozaffar mendapat sebuah aib besar. Namun, jika dibandingkan dengan perilaku pengabaian Nasser Ali pada istri dan anak-anaknya, ‘aib’ Mozaffar jadi seperti punya akar.
Chicken with Plums bukanlah cerita yang menyenangkan. Nasser Ali Khan pun bukan karakter yang mudah untuk dipahami. Terlepas dari seberapa pentingnya kita perlu memahami pilihan yang diambil oleh karakter-karakter dalam fiksi, cerita Satrapi kali ini tidak terlalu istimewa.
Seberapa hebat Nasser Ali sebagai pemain tar tak ditunjukkan kuat. Berbagai kekecewaan dalam hidupnya mungkin memang berdasar, tetapi Satrapi seperti tak bisa memilih imaji yang kuat untuk menunjukkan kenapa kekecewaan itu penting.
Mungkin karena ini bukan cerita tentang dirinya sendiri dan Satrapi harus bersandar pada cerita-cerita keluarga tentang sosok Nasser Ali. Maka Ayam dengan Plum jadi tak senikmat karya Satrapi lainnya.
( pertama diterbitkan di Media Indonesia, 6 November 2008 )