SENI yang mengimitasi kehidupan yang mengimitasi seni. Mungkin itu ungkapan yang paling mendekati ketepatan untuk film terbaru karya sutradara Ben Stiller, Tropic Thunder.

Di dalamnya ia memarodikan dua hal sekaligus, film-film perang Vietnam yang pernah menjadi demam menular di Hollywood dan perilaku para aktor kelas atas dalam bekerja.

Karya ini cerdas dalam mendaur ulang imaji-imaji yang sebenarnya tak terlalu baru. Hasilnya justru sesuatu yang segar. Karya yang hanya akan muncul pada era glorifikasi kultur selebritas seperti yang terjadi sekarang.

Tropic Thunder memang jadinya dangkal dan jenaka. Dangkal dan jenaka adalah kekhasan karya-karya komedi Ben Stiller. Tropic Thunder yang menjadi judul film ini adalah judul sebuah film berbujet besar tentang adaptasi memoar perang John–Four Leaf–Tayback (Nick Nolte).

Singkatnya, ini film tentang pembuatan sebuah film. Nick Nolte memerankan Tayback dengan gaya imitasi (atau penghormatan) akan karakter Colonel Walter E Kurtz-nya Marlon Brando di film Apocalypse Now.

Dalam menggarap Tropic Thunder, sutradara Damien Cockburn (Steven Coogan) mengumpulkan aktor-aktor bernama besar dengan harapan pemasukan box office yang juga besar. Sayangnya, para aktor bernama besar itu juga punya ego besar.

Tugg Speedman (Ben Stiller) selalu bersaing perhatian dengan Kirk Lazarus (Robert Downey Jr). Lalu ada Jeff Portnoy (Jack Black), komedian dalam film tentang keluarga obesitas yang terus-menerus kentut, yang kecanduan narkotik.

Rapper Alpa Chino (Brandon T Jackson) mangkel dengan Lazarus, si aktor totalis bengal asal Australia, yang berperan sebagai tentara kulit hitam dengan mengubah warna kulit dan gaya bicaranya. Ada juga Kevin Sandusky (Jay Baruchel) yang menjadi peredam antara semua konflik itu.

Atas saran Tayback, Cockburn berencana mengambil adegan para aktor itu secara diam-diam, bergaya naturalis. Mereka akan ditinggal di satu titik koordinat dan harus mencapai koordinat penjemputan. Kamera tersembunyi sudah disebar di sekitar hutan.

Sebuah kecelakaan (dan kesalahpahaman keterusan) yang tak diduga membuat sekelompok aktor ini berada dalam daerah kekuasaan sindikat heroin Flaming Dragon. Akhirnya, para aktor itu benar-benar harus menjadi karakter yang mereka perankan kalau mau selamat.

Stiller sebagai sutradara meminjam dan memarodikan bukan hanya Apocalypse Now karya Francis Ford Coppola. Ia juga meminjam adegan dari Platoon-nya Oliver Stone dan memasukkan elemen khas dari setiap film yang menggambarkan Perang Vietnam, lagu Something’s Happening dari Buffalo Springfield.

Lirik, I think it’s time we stop, children, what’s that sound//everybody look what’s going down menjadi begitu sinonim dengan kelebatan helikopter yang beranjak dari ladang-ladang penuh asap Agent Orange.

Apa yang dilakukan Stiller menunjukkan tak ada topik yang tidak aman dari parodi. Jika perang Vietnam saja bisa dibuat seperti ini, bukan tak mungkin tumpukan film tentang perang melawan terorisme yang sekarang banyak dirilis Hollywood akan mendapat perlakuan sama beberapa puluh tahun mendatang.

Mengingat pada 12 November lalu terbit sebuah New York Times palsu dengan berita utama Iraq War Ends, bisa saja parodi dalam bentuk film itu akan datang lebih cepat.

( pertama diterbitkan di Media Indonesia, 20 November 2008 )