PROFESOR sastra paruh baya dan perempuan-perempuan (lebih muda) yang ‘menghidupkan’ mereka tampaknya adalah formula ampuh untuk sebuah drama yang menarik ditonton. Tema yang hampir mirip ini muncul dalam beberapa film secara bersamaan.
Menarik karena yang dihasilkan film-film ini memang tak sempurna. Tapi masing-masing mampu menangkap, walaupun hanya sebentar, sesuatu yang mirip dengan hidup dan menjadi manusia dengan segala kebingungannya. Semuanya menampilkan beberapa kemiripan elemen. Dari mulai permasalahan yang dihadapi si protagonis lelaki, sikapnya terhadap lingkungan, sampai unsur perempuan yang menjadikan mereka sebagai manusia ‘biasa’ kembali berada di titik netral.
Smart People adalah contoh pertama. Dennis Quaid memerankan profesor sastra Inggris di Universitas Carnegie Mellon. Lawrence Wetherhold bukanlah pria yang menyenangkan. Narsistis dengan wajah penuh berewok yang tak ramah. Dengan pundak turun, ia berjalan seperti orang kesakitan. Di kelas dan di rumah, ia jelas merasa superior terhadap orang-orang di sekitarnya. Dan ia masih menyimpan baju istrinya yang sudah meninggal.
Ellen Page adalah Vanessa Wetherhold, anaknya yang menjadikan si ayah sebagai anutan terbesarnya. Dan Ellen Page tampaknya tengah berada dalam sebuah stereotip karakter. Perannya di sini tak jauh beda dengan di Juno, perempuan cerdas berlidah tajam yang memilih berada di pinggiran. Konservatisme politik dan afiliasinya pada Partai Republik-lah yang menjadikan karakternya, dan film ini, menggelitik.
Lalu datanglah adik adopsi Lawrence, Chuck (Thomas Haden Church) tanpa pekerjaan jelas. Orang pintar, dalam film karya sutradara Noam Murro ini, tak pernah berkompromi dengan manusia lain di sekitarnya. Dari sifat dasar itulah maka Lawrence tak pernah kenal nama mahasiswanya atau memedulikan anak-anaknya. Tapi Chuck, yang diidentikkan sebagai ‘produk gagal’ itu, justru lebih bisa ‘berfungsi’ di dunia penuh empati manusia biasa.
Chucklah yang ‘menormalkan’ Lawrence dan anak-anaknya di hadapan Janet Hartigan (Sarah Jessica Parker), mantan mahasiswinya yang sudah jadi dokter. Dan lewat Thomas Haden Church, sebagai adik adopsi yang konyol itu, cerita tentang Lawrence dan keluarganya jadi nyaman diikuti.
Smart People kadang bisa jadi tumpukan plot dan konflik yang tak tersimpulkan secara sempurna. Tapi, seperti judulnya, ini adalah film komedi yang cerdas tanpa harus bertingkah arogan seperti orang-orang yang diceritakannya.
Lalu ada kritikus budaya dan profesor bernama David Kepesh (Ben Kingsley) di Elegy. Film ini diangkat dari novel Philip Roth sehingga patut dicurigai apakah Kepesh adalah salah satu alter ego Roth.
Profesor paruh baya ini tampil lebih simpatik, elegan, dan memesona dibanding Lawrence Wetherhold. Tapi di bawah tampilan penuh kelas itu, dia tengah mengatur strategi. Targetnya adalah mahasiswi cantik setengah usianya bernama Consuela Castillo (Penelope Cruz).
Usia tua atau menua tampaknya jadi kecemasan besar bagi Kepesh sehingga ia membutuhkan tantangan baru. Yang terjadi adalah Consuela malah masuk dalam hatinya.
Kepesh sebagai seorang karakter bisa sangat tak simpatik. Bersama partner main squash dan sahabatnya George O’Hearn (Dennis Hopper), mereka bisa panjang lebar membahas tentang pacar-pacar muda mereka dan pengaruhnya terhadap ego mereka. Bahkan kadang kata-kata mereka berbatas misoginis.
Maka adegan terbaik dalam film ini adalah saat Kepesh yang patah hati berat dan, seperti layaknya remaja puber, tak mau bangun dari tempat tidur. Dan O’Hearn-lah yang merawat dengan membawa makanan ke tempat tidur. Imaji dua tukang selingkuh yang saling merawat di masa tua mereka jadi mengharukan sekaligus jenaka.
Sutradara film ini, Isabel Coixet, sebelumnya pernah membuat My Life Without Me yang elegan, sedih dan manis di saat bersamaan. Jadi dengan nada inilah ia mengarahkan Elegy.
Starting Out in the Evening karya sutradara Andrew Morton memang tak terlalu baru. Tapi ia berada dalam tema dan menampilkan konflik yang kurang lebih mirip. Kali ini adalah penulis Leonard Schiller (Frank Langella) yang tak bisa menyelesaikan novel terakhirnya. Lalu datanglah mahasiswi muda berambut merah bernama Heather yang ingin menulis tesis tentangnya. Dan itu artinya kehidupan baru. Atau malah bahaya.
Wetherhold, Kepesh, dan Schiller punya kesamaan. Ketiganya tak punya pasangan hidup, sama-sama mengabaikan anak-anaknya, dan terisolasi. Mungkin karena buku atau pengetahuan atau budaya lebih mudah ditangani daripada manusia. Bahwa kecerdasan intelektual sering tak sebanding dengan kecerdasan emosional. Ketiga film ini adalah cerita tentang proses penyeimbangan dua jenis kecerdasan itu. Dengan skenario yang sublim, baik di tingkat intelektual atau di tingkat emosi.
( pertama diterbitkan di Media Indonesia Edisi Siang, 24 Juli 2008 )