ADELE, penyanyi berusia 20 tahun itu, saat menerima penghargaan Critics’ Choice dari Brit Awards disebut sebagai Amy Winehouse yang baru.

Mungkin salah satu yang membuat para kritikus itu menyamakan Adele dan Winehouse ialah kesamaan latar belakang pendidikan mereka. Dua-duanya memang berasal dari The BRIT School for Performing Arts and Technology. Katie Melua, Leona Lewis (yang sedang populer dengan lagu Bleeding Love-nya itu) dan Imogen Heap adalah beberapa alumni sekolah yang sama.

Tapi Winehouse sepertinya memang sudah berada di ambang ikoniknya, baik karena bakat atau perilakunya. Yang pasti dia sudah menjadi penanda generasi bagi penyanyi soul Inggris selanjutnya dan ‘penentu’ standar. Sehingga siapa pun yang muncul sesudahnya dapat dengan mudah disebut ‘Amy Winehouse Baru’.

Usia Adele tepat 19 tahun saat album debutnya, 19, dirilis. Pada album itu, Adele ialah dirinya sendiri, terlepas dari reputasi yang ditempelkan kritikus padanya. Suaranya ialah gelombang volume dan tekstur. Sama seperti Winehouse sebenarnya, mereka sama-sama bisa menunjukkan identitas dan karakter bermusiknya lewat suara.

Penulis F Scott Fitzgerald dalam The Great Gatsby menyebut suara karakter Daisy Buchanan tidak punya kapabilitas ‘menyembunyikan emosi’. Kalimat itu terpersonifikasi lewat Adele dan Winehouse. Jika yang tersampaikan lewat suara Winehouse adalah campuran kebandelan dan kerapuhan, Adele memunculkan romantisme dengan kadar perbandingan pas antara optimis dan pesimis. Dia tak pernah gagal menggugah. Baik lewat lirik, suara, atau penataan komposisi.

Duffy
Lalu ada Duffy. Yang ini usianya tak kalah muda, 24 tahun. Pelabelan ‘Amy Baru’ pada diri Duffy sepertinya berawal dari single Mercy.

Mirip dengan Rehab-nya Winehouse, awal lagu ini merupakan hook yang adiktif dan daur ulang bebunyian khas Motown 1960-an. Lagu yang cukup layak dikonsumsi secara berulang sampai lima kali berturut-turut sebenarnya. Tapi sesudah itu, album Rockferry tak pernah menghasilkan sesuatu yang setara dengan Mercy.

Volume suara Duffy memang tak kalah membenamkan dibanding Winehouse atau Adele. Tapi elemen hasrat tak pernah benar-benar muncul dari suara itu. Jika tradisi penyanyi soul perempuan berkulit putih asal Inggris berawal dari Dusty Springfield, ketiganya menunjukkan warisan itu.

Contohnya ialah tatanan rambut sarang lebah. Winehouse mempraktikkannya dalam ukuran mencengangkan, sedangkan Duffy menampilkannya dalam versi mini. Sementara eyeliner tebal ala Dusty diadopsi Adele dan Winehouse. Bahkan Adele mengakui bahwa ia terpengaruh gaya menyanyi dan gaya dandanan Dusty.

Cara menyanyi Dusty, White Queen of Soul ini ialah tentang ketenangan yang sempurna. Hasratnya ada, tapi ditampilkan cukup sekilas, sedikit getaran di bawah permukaan. Lagu hitnya, Son of a Preacher Man adalah contoh sempurna karakter itu. Atau lewat The Look of Love.

Dari tiga penyanyi soul generasi baru itu, Duffy-lah yang disebut sebagai ‘Dusty Baru’. Tapi butuh dari sekadar gaya dandanan untuk mendapat reputasi itu.

(  pertama diterbitkan di Media Indonesia Edisi Siang, 25 Juni 2008 )