ADA masa komedi romantis bukan genre yang dianggap ‘remeh’. Ia bisa berbicara tentang pertentangan kelas, prasangka, dan sedikit sentuhan feminisme, sambil tetap membahas probabilitas cinta. The Philadelphia Story ialah contoh tepat untuk teori itu.
Di sinilah aktris Katharine Hepburn, yang hari kelahiran ke-101-nya diperingati 12 Mei lalu, memerankan Tracy Lord. Karakter itu juga yang mengawali reputasi Hepburn di layar sebagai perempuan mandiri di masanya, yang berani mendorong batas-batas sosial.
Film itu mengisahkan seorang sosialita (Katharine Hepburn) pada ambang pernikahan keduanya dengan George Kittredge (John Howard). Konflik muncul dalam bentuk kembalinya si mantan suami, CK Dexter Haven (Cary Grant yang mampu melelehkan batu). Motivasinya kembali ke hidup Tracy memang tak jauh dari urusan hati.
Sepanjang film didedikasikan penulis skenarionya, Donald Ogden Stewart dan Philip Barry untuk membangun argumentasi dengan lelaki yang mana Tracy akan berakhir.
Yang juga menarik setiap pria diibaratkan mewakili kelas sosial berbeda dengan ‘kesalahan’ masing-masing. CK Dexter Haven, awalnya ialah pemabuk. Lalu, sosok George yang menilai pernikahannya sebagai upaya menaikkan kelas dan Tracy ialah gambaran perempuan ideal.
Dalam salah satu adegan, George yang mencoba mengatur perilaku Tracy mengatakan, “A husband expects his wife to behave herself. Naturally.” (Seorang suami, secara alami, mengharapkan istrinya berlaku sesuai tata krama).
Tapi Dexter, mengoreksi George dengan mengatakan, “To behave herself naturally.” (Menjadi dirinya sendiri). Penghilangan titik itu memiliki kekuatan setara dengan konsep keadilan gender.
Pada akhirnya, The Philadelphia Story tak lepas dari cap komedi romantis. Si protagonis perempuan berakhir dengan lelaki yang ’sesuai’ formula genre. Tapi film ini menunjukkan reformasi karakternya bukan instan. Ia proses yang muncul karena persinggungan dengan berbagai tipe manusia.
( pertama diterbitkan di Media Indonesia Edisi Siang, 15 Mei 2008 )