CINTA tak jarang bisa membutakan. Ia membuat orang percaya mereka bisa melakukan apa saja. Termasuk mengalahkan takdir dan menghidupkan kembali kekasih yang sudah mati.

Dari situlah Der mude Tod atau Destiny (Takdir) berawal. Film keluaran 1921 dari sutradara Fritz Lang ini diputar di Gedung Kesenian Jakarta kemarin malam. Ia akan diputar lagi malam ini pukul 19.30 untuk umum secara gratis.

Selanjutnya, Destiny akan mampir juga di Bandung pada 17 Mei di Taman Budaya Bandung dan Yogyakarta pada 21 Mei di Gedung Societeit, Taman Budaya Yogyakarta.

Lang, yang lebih dikenal dengan karya M (1931) atau Metropolis (1927), ialah sutradara film bisu Jerman dari era 1920-an. Destiny adalah film yang meluncurkan karier film internasionalnya.

Ceritanya ada pasangan muda yang sedang jatuh cinta. Di sebuah perempatan desa, kereta kuda yang mereka naiki mendapat penumpang baru. Si penumpang ternyata Kematian (Bernhard Goetzke) yang siap mencabut nyawa si laki-laki muda (Walter Janssen).

Si perempuan muda (Lil Dagover, bintang film bisu Jerman kelahiran Madiun) pun tak rela. Ia bunuh diri demi menyusul kekasihnya. ‘Untungnya’, Kematian yang ia temui sudah kelelahan mencabuti nyawa. “Aku sudah lelah. Pekerjaan ini adalah sebuah kutukan. Yang aku dapatkan hanya kebencian karena menaati Tuhan,” katanya kepada si perempuan muda. Lalu ia menantang perempuan muda mengalahkan dirinya.

Kematian memberi tiga kesempatan bagi si perempuan muda untuk menyelamatkan kekasihnya dalam dimensi waktu berlainan.

Kisah cinta si perempuan muda dan kekasihnya pun dicangkok ke tiga lokasi berbeda; Baghdad, Venezia, dan China. Di tiga ’skenario’ itu, tugas si perempuan tetap sama, menghindarkan kekasihnya dari pencabutan nyawa.

Di tiga lokasi eksotis itulah Lang mulai menunjukkan tatanan visual dan imajinasinya yang kemudian memengaruhi karya-karya sutradara Alfred Hitchcock. Tapi Lang menampilkan elemen fantasi terkuatnya (dan paling jenaka) di ’segmen’ China lewat imaji serdadu mini dan kuda ajaib yang bisa hidup dari sekadar patung.

Musik film bisu
Bagi penyuka (sejarah) film di Indonesia, kehadiran Destiny saja sudah cukup berharga. Komposisi orkestra gubahan komponis Piere Oser yang mengiringi film ini pun jadi tambahan bermakna untuk menonjolkan atmosfer.

Menurut Oser, ia telah enam kali bekerja sama dengan orkestra dari Akademi Musik Nasional Vietnam yang berlokasi di Hanoi. Tapi, secara keseluruhan, Oser telah mengerjakan sekitar 400 sampai 500 proyek menggubah musik untuk film bisu.

“Sekitar 8.000 film bisu di seluruh Eropa bisa ditonton secara utuh. Tapi hanya sekitar 50 film yang punya partiturnya sendiri. Sisanya harus membuat musik baru,” katanya kemarin seusai pementasan.

Dalam menggubah, ia mencoba mempertahankan atmosfer dan niat dari karakter-karakternya. “Saya mencoba melihat sejarah mereka, ke mana mereka akan pergi, apa yang terjadi. Tugas saya hanya mendukung mereka. Tapi saya juga bisa mengubah karakter mereka. Dengan wajah yang sedih, kadang saya bisa membuat musik yang ceria, dan sebaliknya. Musik juga menjadi pemain dalam film,” tambahnya.

( pertama diterbitkan di Media Indonesia Edisi Siang, 15 Mei 2008 )