PADA minggu yang sama saat majalah Time memasukkan nama Judd Apatow ke dalam daftar 100 Orang Paling Berpengaruh, MTV Movie Awards menguatkan penilaian itu. Superbad, film yang ia produseri, mendapat lima nominasi dalam ajang penghargaan tersebut. Salah satunya untuk film terbaik.

Film lain yang diproduseri Apatow, Forgetting Sarah Marshall, sampai minggu ini telah mengumpulkan US$ 44,7 juta. Sekaligus bertengger di posisi lima peringkat box-office Amerika Serikat. Nama Apatow dalam film sekarang sudah jadi merek jaminan laris.

Dalam esai untuk majalah Time, komedian Garry Shandling menulis, sutradara, produser dan penulis naskah Judd Apatow telah memproduksi sebuah genre baru lewat Knocked Up.

“Apa yang bisa jadi sekadar film lucu tentang mengonsumsi ganja menjadi film tentang orang-orang yang kamu pedulikan, tentang hubungan dan menjadi dewasa,” tulis Shandling.

Karier Apatow sebagai penulis naskah berawal dari acara televisi The Larry Sanders Show. Ia lalu menjadi sutradara dan penulis naskah di serial televisi berumur pendek bertitel Freaks and Geeks, tentang kehidupan remaja suburban yang dianggap tidak populer di sekolahnya.

“Sepertinya semua yang saya lakukan cenderung berpihak pada underdog. Sebagai seorang anak saya merasa kurang dihargai, tidak terlihat dan aneh. Diam-diam saya selalu merasa bahwa suatu hari orang akan menghargai yang berbeda dari diri saya. Saya selalu menyampaikan pesan itu. Pada akhirnya, para nerd dan geek akan mendapat gilirannya,” kata Apatow. Keberpihakan itulah yang ditunjukkan lewat karya-karyanya seperti The 40 Year Old Virgin atau Knocked Up. Sangat mudah mengecap karya-karya Apatow sebagai parade lelucon jorok (toilet joke).

Tak bisa dimungkiri, memang iya. Tapi itu hanya fasade. Di bawahnya, Apatow memunculkan keinginan karakter protagonis prianya untuk menjadi dewasa walau kadang melalui cara yang terpaksa.

Lewat Knocked Up, Ben Stone (Seth Rogen) dipaksa menjadi dewasa setelah percintaan semalamnya dengan sosok cantik Alison Scott (Katherine Heigl) berbuah janin.

Dunia Apatow
Yang jadi cap Apatow dalam beberapa filmnya ialah kelancaran karakternya mengutip referensi budaya dan membuatnya jadi lelucon cerdas walaupun tidak politically correct. Dan memang bukan itu tujuan Apatow. Komedi, apa pun bentuknya, ialah tentang mendorong batas-batas ‘kepantasan’.

Cuma Apatow yang bisa menulis dialog seperti, “Do you wanna know why I know you’re gay? Cause you like Coldplay.” (Dari The 40 Year Old Virgin). Atau, dari Knocked Up, “Pernikahan itu seperti episode Everybody Loves Raymond yang tegang dan tidak lucu. Tapi tidak akan selesai dalam 22 menit. Ini akan berlangsung selamanya.”

Dunia Apatow ialah dunia pria. Lelaki-lelakinya yang mencoba dewasa itu kebanyakan bertipe underachiever. Mereka tak punya banyak hal berarti dalam hidup. Karakter itu mudah disukai penonton.

Perempuan-perempuannya lain lagi. Tuduhan misoginis di film-film Apatow lebih sulit dibantah. Karakter Alison dan kakak perempuannya di Knocked Up diposisikan tak pernah bisa bersenang-senang. Di Forgetting Sarah Marshall, ada penekanan pada perempuan cantik yang selalu membuat hidup pria ‘baik-baik’ jadi sengsara. Dan di Superbad, seperti komedi SMA lainnya, karakter perempuan hanya objek pengejaran daripada sosok berjiwa. Mungkin di poin inilah merek Apatow jadi negatif.

Tapi dengan empat film yang ia produseri, termasuk satu proyek kerja sama dengan aktor Adam Sandler yang ia sutradarai sendiri, Apatow belum menunjukkan perlambatan untuk jadi pengaruh permanen dalam kultur pop Amerika.

( pertama diterbitkan di Media Indonesia Edisi Siang, 8 Mei 2008 )