BOB Dylan punya banyak kepribadian. Karena afiliasinya dengan musik folk dan penyanyi serta aktivis Joan Baez pada gerakan hak sipil, dia sempat dianggap sebagai bagian dari perjuangan hak sipil. Musiknya pada era 1960-an awal itu kemudian menjadi standar musik protes yang menuntut perubahan sosial.

Lalu, di Newport Folk Festival pada 25 Juli 1965, Dylan tampil di panggung musik dengan gitar elektrik, bas elektrik, organ, drum, layaknya sebuah band rock’n roll. Penonton yang mengharapkan sebuah penampilan akustik meneriakinya agar turun dari panggung.

Tetapi di titik inilah sisi kontroversial Dylan berawal. Dia mengaburkan batas antara ‘ketulusannya’ bersuara di era perjuangan hak sipil dan pilihannya di jalur komersial. Toh apa pun yang dilakukannya, dia masih punya pengaruh.

Belum lagi sisi kehidupan pribadinya yang hanya terdengar selentingan. Atau tentang pengaruh idola-idolanya, musisi Woody Guthrie atau bandit Billy the Kid pada cara Dylan melihat dirinya sendiri.

Semua sudut pandang dan kepribadian (asli atau palsu) Dylan inilah yang coba ditangkap sutradara Todd Haynes lewat biopik I’m Not There.

Pendekatan yang dipakai Haynes tidak konvensional. Jika biopik musik yang sedang menjamur beberapa tahun belakangan dan meraih berbagai penghargaan Oscar mencoba memberikan gambaran seautentik mungkin tentang kehidupan sang seniman, I’m Not There tak memusingkan apa yang asli dan palsu.

Ada enam ‘Dylan’ yang ditampilkan Haynes. Masing-masing dengan aktor berbeda, menceritakan setiap fase berbeda dalam kehidupan Dylan.

‘Dylan’ karena masing-masing dari mereka tak menggunakan nama itu, tapi cerita hidup musisi itulah yang diperankan oleh lima aktor dan satu aktris itu.

Masa perjuangan hak sipil Dylan diwakili oleh Jack Rollins (Christian Bale), masa ketika musikalitas Dylan dituduh hipokrit dimainkan oleh Cate Blanchett sebagai Jude Quinn. Lalu ada versi Dylan dengan alias Arthur Rimbaud yang diperankan Ben Whishaw.

Kehidupan domestik yang tak pernah dimiliki Dylan bersama Suze Rotolo (salah satu mantan pacarnya yang terabadikan lewat sampul album The Freewhelin’ Bob Dylan) diwujudkan dalam sosok Robbie Clark (Heath Ledger).

Tetapi bisa saja segmen ini berbicara tentang gabungan semua kehidupan pernikahan Dylan. Lalu ada Marcus Carl Frankin dan Richard Gere yang memerankan sosok-sosok fiksional Dylan, Woody Guthrie dan Billy the Kid.

Dengan masa putar 135 menit, sebenarnya ini dedikasi terlalu panjang untuk Dylan yang sudah awam diketahui megalomanianya. Tetapi toh film ini sejalan dengan identitas Dylan yang kita ketahui –atau tidak ketahui– selama ini.

Apa yang bisa kita dapatkan atau interpretasi dari film ini adalah kita tidak pernah tahu sisi kepribadian Dylan mana yang ‘jujur’ dan ‘tidak jujur’. Tidak penting mengetahui yang mana yang ‘jujur’ dan mana yang ‘tak jujur’.

Bob Dylan bisa saja jadi sekadar Dylan. Kata Dylan versi Jude Quinn di film ini, “Seperti halnya segala sesuatu yang banyak dicari (on high demand), orang mencoba memilikinya.”

Dan mencoba menentukan mana Dylan yang nyata dan yang fiksi sama seperti upaya ‘memiliki’ Dylan. Padahal ia adalah miliknya sendiri.

( pertama diterbitkan di Media Indonesia Edisi Siang, 24 April 2008 )