Jakarta adalah kota yang terlampau ajaib. Orang-orangnya terlalu aneh. Tetapi bagi Benny dan Mice, orang-orang aneh di Jakarta adalah tokoh.
—
HANYA butuh empat bulan bagi duo kartunis Benny Rachmadi dan Muhammad Misrad (Mice) untuk menentukan isi buku 100 Tokoh yang Mewarnai Jakarta.
Proses pengamatan mereka pun tidak terlalu rumit. “Yang ada di sekitar kami aja,” kata Benny pada peluncuran buku tersebut, Kamis (28/2) di Bentara Budaya, Jakarta.
Mice menambahkan, “Ya, cuma itu (tokoh-tokohnya) yang sempat kami amati.”
Apakah jawaban itu adalah cara mereka merendah atau sekadar mengatakan yang sebenarnya? Tetapi hasilnya adalah kritik sosial yang tajam dan detail tentang rupa-rupa manusia Jakarta.
Cara Benny dan Mice memotret para tokoh tersebut tidak hanya berhenti pada gambar, tetapi berlanjut pada pemetaan kebiasaan, pola penampilan, gerak tubuh, sampai merek produk pakaian si tokoh yang tengah dipotret.
Keduanya sadar, karakter manusia Jakarta juga tecermin lewat kemasan luar yang dipresentasikan si tokoh. Sedetail itulah karakterisasi yang dibangun Benny dan Mice. Dibangun karena yang mereka daftar sebenarnya hanya sebuah bentuk pencatatan detail kehidupan nyata.
Mulai tukang ojek, bandar ikan, penjual cakram padat bajakan, nyonya besar, ibu-ibu kampung, hansip, korban banjir, pedagang kerak telur, guru ngaji, penghulu, oknum pegawai negeri, ojek payung, pengurus kuburan, sampai satpol PP mereka tampilkan.
Lewat karakter dan kebiasaan para tokohnya, Benny dan Mice sedang mencoba menjelaskan beragam bentuk kehidupan yang bisa ditemukan di Jakarta. Ini adalah sebuah studi sosiologis sekaligus etnografis yang serius walaupun kemasannya superjenaka.
Duo Benny dan Mice yang mulai berkolaborasi sejak 1988 ini berhasil memunculkan warna Jakarta lewat beragam profesi yang khas kota itu. Banci Taman Lawang, penjual minuman dalam ember yang berkeliling di bus-bus kota, dan penuntun binatang di mal adalah sederet contohnya. Pada sebagian besar ‘potret’ para tokoh itu, Benny dan Mice mampu berjalan seimbang di batas tajam dan nyinyir. Tetapi ketika mereka menggambarkan keragaman etnik, tak urung dahi sempat mengernyit–walaupun cuma sebentar– apakah mereka masih menjadi pengamat yang tajam atau sudah beralih ke ranah ofensif?
Kehidupan ajaib
Tetapi mungkin kelucuan adalah tentang terus mendorong batas ofensif itu. Mice mengatakan, “Kami tidak menghalus-haluskan diri dan kami nggak mengarang-ngarang. Ya, memang kayak gitu potretnya pada saat kami ketemu orang ini, orang itu,” imbuh Mice.
Garis gambar karakter mereka yang khas, menurut keduanya, sudah tak ketahuan lagi milik siapa. Itulah gaya gabungan mereka. “Mulai ide, sheet, teknis, penceritaan, semua berdua,” kata Mice yang tampaknya sudah memosisikan diri sebagai yang lebih komunikatif di antara keduanya.
Buku ini, menurutnya, adalah sebuah upaya untuk menertawai kehidupan ajaib yang dijalani manusia-manusia Jakarta. “Kami nggak mau sinis lagi, hasilnya kan memancing emosi orang. Macet, ya tetap macet. Banjir, ya tetap banjir. Kami pengen ngehibur di saat fasilitas nggak pernah beres,” tambah Mice di sela-sela kegiatannya menandatangani eksemplar 100 Tokoh… yang disodorkan penggemarnya.
Jakarta, keduanya sepakat, tak akan pernah habis digali. Permasalahannya terlampau banyak, penduduknya terlalu padat, macet dan banjirnya pun keterlaluan. Ironisnya, permasalahan dan kepadatan penduduk inilah yang jadi sumber inspirasi karya keduanya.
Peluncuran buku 100 Tokoh… beberapa waktu lalu itu dihadiri sekitar seratusan orang. Wimar Witoelar salah satu di antaranya. Dia mengaku penggemar berat kartun Benny & Mice yang muncul setiap Minggu di sebuah koran nasional sejak 2003.
Benny dan Mice sama-sama lulusan jurusan Desain Grafis Fakultas Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta pada 1993. Mice sekarang bekerja sebagai ilustrator dan perancang grafis lepas, sedangkan Benny kartunis di tabloid dan harian Kontan.
Kartun Lagak Jakarta mereka sudah jadi enam buku tersendiri. Kumpulan karya yang terentang dari 1997 sampai 2007 itu terbagi dalam enam judul. Judul ketujuhnya, Gila Bola, akan muncul menyusul 100 Tokoh….
Janjinya, tetap dengan ketajaman pengamatan dan kejenakaan yang sudah jadi ciri khas mereka.
( pertama diterbitkan di Media Indonesia Edisi Siang, 6 Maret 2008 )