NAMANYA Jane Austen. Dalam hidupnya dia menelurkan enam cerita ’standar’ tentang heroine yang menemukan pujaan hati. Latar belakangnya selalu pedesaan Inggris, perbedaan kelas dan derajat sosial yang punya pengaruh besar pada suksesnya kisah cinta. Ada aturan kesopanan yang ketat dalam mengatur hidup karakter-karakternya, dan banyak adegan pesta dansa yang jadi tempat-tempat interaksi sosial. Tapi catatan kehidupan sebelum terjadinya Revolusi Industri ini ternyata tak kehabisan relevansi di dunia modern.

Ada empat karya televisi dan film yang berputar di sekitar karya dan kehidupan Austen yang dirilis berturutan baru-baru ini. Pertama adalah Becoming Jane. Sebuah film yang dibuat berdasarkan buku Becoming Jane Austen karya Jon Spence.

Film ini mencoba menceritakan tentang kisah cinta di masa muda Jane Austen. Selama 41 tahun hidupnya, ia tak pernah menikah. Austen sempat bertunangan semalam sebelum akhirnya membatalkan. Tapi seorang Tom Lefroy sempat menggetarkan hatinya suatu waktu dulu. Bahkan, menurut versi film ini, mereka sempat merencanakan dan sudah hampir kawin lari. Sebuah pelanggaran nilai sosial besar di masa itu.

Dalam film itu Jane Austen diperankan Anne Hathaway. Dikisahkan, awalnya Austen kesal dengan Lefroy (James McAvoy), pemuda asal Irlandia yang dia nilai terlalu arogan. Sebuah kisah yang punya kemiripan dengan plot awal novel Austen, Pride and Prejudice.

Diskusi tentang kesamaan minat pada novel membuat keduanya semakin dekat. Tapi percintaan mereka alamat berakhir. Pasalnya, dua-duanya sama-sama miskin. Lefroy bahkan punya 10 adik yang harus ditanggung. Padahal, jalan satu-satunya bagi perempuan di masa itu untuk hidup sejahtera ialah dengan cara menikah.

Book Club
Lalu ada The Jane Austen Book Club dari sutradara Robin Swicord yang diangkat dari buku berjudul sama karya Karen Joy Fowler. Ceritanya tentang enam orang–lima perempuan, satu laki-laki–di Sacramento, California yang berkumpul sebulan sekali membahas novel-novel Jane Austen. Setiap anggota klub ‘membawa’ permasalahannya sendiri yang plotnya mirip dengan cerita Austen. Hobi Jocelyn (Maria Bello) memacak anjing disetarakan dengan Emma yang suka menjodoh-jodohkan. Hubungan Jocelyn dan Grigg (Hugh Dancy) mirip dengan Elizabeth Bennett dan Mr Darcy di Pride and Prejudice.

Pisah sambungnya pasangan Sylvia (Amy Brenneman) dan Daniel (Jimmy Smits) diibaratkan seperti Anne Elliot dan Captain Wentworth di Persuasion.

Namun, karakter Jocelyn dan Sylvia yang seharusnya berusia 50-an, berubah jadi lebih muda sekitar awal 40-an. bahkan bisa terasa 30-an akhir. Grigg yang seharusnya berusia 40-an, dibuat jadi pertengahan 20-an. Tapi film ini menjadi hidup ketika mulai membahas novel-novel Jane Austen. Poin-poin yang dibahas valid dan menarik. Setidaknya bisa memperdalam apresiasi tentang novel karya Austen. Adegan-adegan terbaik dalam film ini ialah saat setiap karakter di-closeup saat tengah membaca novel dengan beragam edisi sampul.

Lalu, ada sebuah film televisi keluaran PBS berjudul Miss Austen Regrets ditayangkan Februari lalu di Amerika Serikat. Ceritanya berfokus tentang tahun akhir hidup Austen yang menyesali keputusan percintaannya di masa lalu. BBC baru-baru ini juga membuat dan masih menayangkan mini seri adaptasi novel Jane Austen Sense and Sensibility. Ini mengingatkan pada sutradara Ang Lee yang sudah membuat adaptasi cukup bagus dari novel yang sama pada 1995, dan berhasil memenangkan Oscar untuk Skenario Adaptasi Terbaik.

Agaknya, karya Austen belum (akan) aus terkonsumsi walaupun fokusnya ‘hanya’ kisah pendekatan dua manusia.

Novelis Inggris Martin Amis di majalah The New Yorker edisi 8 Januari 1996 menulis, “Anehnya, Jane Austen mampu menyibukkan semua orang. Kelompok moralis, orang-orang Eros-dan-Agape, kaum Marxis, pengikut Freud, pengikut Jung, ahli semiotika, dan mereka yang suka mendekonstruksi. Semuanya menemukan taman bertualang di enam novel yang kurang lebih sama tentang penduduk kelas menengah pedesaan. Dan bagi setiap generasi baru kritikus dan pembaca, karya fiksinya dengan mudah memperbarui diri.” Pernyataan Amis tentang Austen, tak bisa lebih tepat dari itu.

( pertama diterbitkan di Media Indonesia Edisi Siang, 27 Maret 2008 )