PUSAT perbelanjaan eX yang gemerlap dan konsumtif untuk satu malam mendapat sentuhan muram. Sepuluh lagu yang dimainkan band indie Efek Rumah Kaca (ERK) jadi terasa kontras dengan keplastikan khas pusat perbelanjaan. Kesannya jadi terlalu cerdas dan kontemplatif di tempat yang tujuannya hanya menawarkan keriangan sementara.
![]()
Kebanyakan pengunjung eX Sabtu (23/2) malam kemarin hanya sekadar menoleh penasaran ke ruang ‘panggung’ yang dihimpit dua eskalator naik dan turun. Tapi ada sekitar seratusan orang berkumpul di depan panggung mini atrium. Sebagian besarnya adalah penggemar fanatik yang mengikuti ke mana pun ERK tampil.
![]()
Cholil, vokalis ERK, tampak cukup takjub dengan pilihan lokasi mini konser mereka malam itu. “Biasanya kita manggung di scene-scene indie yang orang-orangnya seputar itu-itu saja. Di ruang publik yang datang kan bisa enggak terduga. Ya, membuka peluanglah. Pastinya kita pengen didengar lebih banyak orang,” kata Cholil seusai pertunjukan. Lagu Cinta Melulu mereka memang belakangan sering diputar di radio. Baru pada lagu yang dimainkan terakhir inilah suasana dengan penonton–yang baru pertama mendengar–mulai cair.
![]()
Kekuatan lirik
Poin pertama dari ERK yang paling menarik pujian ialah lirik. Simak lirik Cinta Melulu. “Lagu cinta melulu/Kita memang benar-benar melayu/Suka mendayu-dayu/Apa memang karena kuping melayu/Suka yang sendu-sendu.”
![]()
Dalam lagu kurang lebih tiga sampai empat menit, ERK menawarkan sebuah kritik cerdas akan kondisi industri musik arus besar di Indonesia. “Kita enggak tahu siapa yang stuck. Apa musisi-musisinya sebenarnya bagus, bisa menghasilkan karya bagus, tapi dibredel oleh labelnya atau yang lain,” kata Cholil tentang kondisi yang coba dikritiknya lewat lagu itu.
![]()
Dengar juga lirik lagu Di Udara yang bisa membuat merinding itu. ERK menyampaikan sebuah penghormatan akan pejuang hak asasi manusia Munir. “Ku bisa tenggelam di lautan/Aku bisa diracun di udara/Aku bisa terbunuh di trotoar jalan/Tapi aku tak pernah mati/Tak akan berhenti”. Malam itu pun Adrian, si basis, mengenakan kaus merah bertuliskan ‘Munir’ di bagian depan.
![]()
Lewat lagu-lagunya, ERK mencoba menawarkan sebuah potret kondisi realitas masyarakat. “Ada yang mengkritik diri kita sendiri, ada yang mengkritik orang lain. Kita ingin kalau misalnya lagu ini didengar 10 tahun lagi, orang jadi tahu seperti apa kehidupan orang Indonesia di masa itu,” terang Cholil.
![]()
Akbar si penabuh drum mengakui bahwa ketiganya memang punya kesukaan kolektif pada Iwan Fals walaupun masing-masing punya pengaruh musikalitas yang berbeda-beda. “Dari dialah kita belajar mengkritik dengan baik,” tukas Cholil lagi.
( pertama diterbitkan di Media Indonesia Edisi Siang, 29 Februari 2008 )